Akses ke Kubah Enamel Al-Aqsa


Akses ke Kubah Enamel Al-Aqsa

Akses ke Kubah Enamel Al-Aqsa
Sepanjang perang Israel-Arab th. 1947-1948 yang disudahi dengan gencatan senjata pada Israel serta penyerang Arabnya, beberapa orang Yahudi dibikin bersih dengan etnis dari semuanya lokasi yang diduduki oleh tentara Arab. Masyarakat Yahudi di Yerusalem Timur, yang meliputi Kubah Enamel Al-Aqsa yang dibuat diatas Bukit Bait Suci Yahudi, beralih dari sebagian besar jadi tak ada. Beberapa orang Yahudi bahkan juga tidak diizinkan untuk berkunjung ke beberapa tempat suci mereka sendiri, bertentangan dengan perjanjian gencatan senjata th. 1949, serta sebagian website itu sudah ditahbiskan serta dirusak oleh otoritas Arab.
Dalam perang Israel-Arab 1967, Israel merebut kembali Yerusalem Timur dalam satu diantara pertempuran terberat perang itu. Ketika itu, Israel bisa menuntut balas dendam pada beberapa orang Arab dengan lakukan pada mereka apa yang orang Arab kerjakan pada orang Yahudi. Tetapi, alih-alih bersihkan Yerusalem Timur dari beberapa orang Arab dengan etnik serta menodai beberapa tempat suci mereka, Israel membiarkan mereka tetaplah tinggal serta bahkan juga dengan menarik meletakkan Al-Aqsa dibawah pengelolaan Wakf Muslim.
Bila Israel memperlakukan orang Arab lewat cara yang sama dengan orang Arab sudah memperlakukan orang Yahudi, cuma beberapa orang munafik yang juga akan menyalahkannya. Namun Israel pilih jalan yang tinggi, yang mana orang Arab serta Muslim mesti begitu bersukur.
Bila Israel sudah lakukan apa yang adil dalam keadilan, Muslim pada hari ini tidaklah perlu cemas untuk melalui detektor logam untuk masuk Kubah Enamel Al-Aqsa. Mereka tidaklah perlu cemas karna tak ada Muslim yang diizinkan di lapangan itu serta Al-Aqsa juga akan sudah dinodai serta dibongkar.
Mujur untuk orang Arab serta Muslim, orang Yahudi tidak berperilaku seperti orang Arab, serta pemerintah Israel bahkan juga tidak sempat pikirkan peluang melarang Muslim dari Kubah Enamel Al-Aqsha atau mengakibatkan kerusakan Kubah Enamel lewat cara apa pun. Sesungguhnya, Israel pilih untuk menulis jadi satu diantara undang-undang dasarnya, satu undang-undang yang melarang penodaan website suci agama manapun.
Apakah kita lihat rasa sukur Muslim sekarang ini pada beberapa orang Yahudi untuk aksi kemurahan hati serta ketenangan yang tidak ada bandingannya? Bukanlah.
Sesudah serangan teroris yang menyebabkan sebagian kematian mengakibatkan pasukan keamanan Israel memakai detektor logam di pintu masuk Kubah Enamel, reaksi banyak Muslim yaitu demonstrasi kekerasan, penolakan untuk masuk Kubah Enamel, menyerukan ” hari kemarahan “, ancaman kalau ” dunia Arab juga akan bangkit “, serta satu ketentuan PA untuk ” hentikan semuanya kontak ‘dengan Israel “.
Wow! Tidak, tidak persis sukur.
Avi Issacharoff, analis Times of Israel di Timur Tengah, mengaku kalau perpindahan detektor juga akan jadi kemenangan untuk ekstremis, tetapi dia mereferensikan perpindahan mereka. Gedung Putih menyerukan ” Negara Israel serta Kerajaan Hashemite Yordania untuk lakukan usaha dengan niat baik untuk kurangi kemelut serta temukan jalan keluar yang menanggung keamanan umum serta keamanan website serta menjaga status quo “. Dengan kata beda, Gedung Putih menginginkan Israel berkompromi.



Recent Comments